ads

ads header

Breaking News

Pasca Pembebasan Lahan Untuk Industri, Pemilik Lahan Warga Desa Lojikobong Terpedaya Calo


Majalengka, media3.id - Nasib kurang beruntung dialami Juba dan Unaenah dua warga Blok jumat Desa Lojikobong Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka ini terpedaya oleh calo tanah yang mengatasnamakan tim pengadaan tanah  diwilayah tersebut.

Keberadaan calo-calo tanah disekitar Desa Lojikobong itu sudah tidak bisa ditolerir, pasalnya usai pembebasan lahan selalu menyisahkan permasalahan ditengah-tengah masyarakat.

Belum lama ini terjadi masyarakat pemilik lahan yang terkena pembebasan diperdaya oleh tingkah para calo itu dengan motif kelebihan tanah.

" Pembebasan lahan,  waktu itu sekitar bulan November 2017, saya punya sawah di blok sayang bango luasnya 125 bata dan dihargai oleh tim Rp 2.500.000 per bata, berarti waktu itu nerima Rp 312.500.000, namun dipinta oleh tim Rp 30 juta dengan alasan kelebihan tanah," ungkap Sarah Istri Juba Sabtu (23/2/2019).

Pihaknya mengaku saat dimintai sejumlah uang oleh tim, sempat memohon jangan terlalu besar. Namun tim  bersih kukuh,sehingga dirinya menuruti keinginan orang-orang yang yang menamakan dirinya  tim tersebut.


" Ukuran tanah yang saya miliki katanya lebih, dan kelebihannya itu haknya tim, katanya, jadi yang dibayar sesuai surat tanah saja," paparnya diamini Juba suaminya.

Hal serupa dialami warga lainnya, Unaenah pihaknya mengaku saat pembebasan  lahan  mendapat Rp 600 juta, namun diminta oleh tim Rp 70 juta. Lagi, lagi alasannya yang dilontarkan tim itu karena kelebihan tanah.

" Saya tidak ngerti tentang pembebasan lahan, apalagi saya sudah tua, karena saya tidak ngerti akhirnya saya bersama anak-anak berembug dan melakukan pertemuan dengan tim itu," katanya.

Menurutnya dari pertemuan itu akhirnya disepakati untuk mengeluarkan uang Rp 35 juta kepada tim.

"Sebelumnya tim minta untuk kelebihan tanah itu 70 juta tapi saya dan anak terus menawar akhirnya saya mengeluarkan 35 juta," ujarnya menambahkan.

Saat pertemuan dengan tim tersebut pihaknya mengaku menandatangani surat yang dibuat oleh tim.

" Anak-anak saya juga turut tandatangan,  ada satu anak yang di Cirebon tidak ikut menandatangani karena jauh," terangnya.

Dari anak yang di Cirebon itu akan melanjutkan permasalahan ini, bahkan akan membawa pengacara, namun karena di dalam tim itu ada salah satu saudara jadi permasalahan ini urung dilanjutkan dan dianggap selesai.

" Karena saya dan anak-anak saya tidak ingin ribut-ribut, apalagi dengan saudara sendiri," tuturnya.

Dilain pihak Yanto salah satu orang yang ikut tergabung dalam tim juga sebagai Sekdes desa setempat mengaku siap jika permasalahannya diangkat.

" Siap ya, siap, " ajaknya ke tim lainnya saat dikonfirmasi media di kantornya.

Selain itu Yanto juga sempat menanyakan kepada awak media asal muasal mengetahui permasalahan tersebut.

" Sebenarnya darimana sih informasi ini, lagian ini kan, masalahnya sudah lama," kilahnya.

Pihaknya juga mengakui sebenarnya yang dibayar dalam pembebasan lahan itu sesuai hasil ukur dilapangan bukan disesuaikan dengan surat tanah yang dimiliki pemilik lahan seperti, SPPT dan Akta.

" Iya uang itu dari kelebihan tanah dan sudah disepakati sebelumnya. Dari Pak Uba tadinya sepakat 30 juta tapi kami dapat 25 juta sedangkan dari Ibu Unah tadinya 70 juta Kami terima 35 juta," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Lojikobong, Eman pihaknya mengaku tidak tahu permasalahan tersebut.

" Saya tahu masalah ini baru sekarang," katanya singkat. (Nano)

No comments